Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan Dilakukan Melalui Media Berikut Kecuali

Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan Dilakukan Melalui Media Berikut Kecuali

Rumah Proklamasi lengkap dengan Tugu Proklamasi sekitar tahun 1950-1960 di Jalan Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi). Kedua bangunan tersebut kini telah hancur.

Proklamasi Kemerdekaan Republic of indonesia
dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, yang dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta di sebuah rumah hibah dari Faradj Martak di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Dki jakarta Pusat.[1]
Proklamasi tersebut menandai dimulainya perlawanan diplomatik dan bersenjata dari Revolusi Nasional Indonesia, yang berperang melawan pasukan Belanda dan warga sipil pro-Belanda, hingga Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949.[2]

Pada tahun 2005, Belanda menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk menerima secara
de facto
tanggal 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia.[3]
Namun, pada tanggal 14 September 2011, pengadilan Belanda memutuskan dalam kasus pembantaian Rawagede bahwa Belanda bertanggung jawab karena memiliki tugas untuk mempertahankan penduduknya, yang juga mengindikasikan bahwa daerah tersebut adalah bagian dari Hindia Timur Belanda, bertentangan dengan klaim Indonesia atas 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaannya.[four]
Dalam sebuah wawancara tahun 2013, sejarawan Republic of indonesia Sukotjo, meminta pemerintah Belanda untuk secara resmi mengakui tanggal kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.[5]
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui tanggal 27 Desember 1949 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia.[6]

Naskah Proklamasi ditandatangani oleh Sukarno (yang menuliskan namanya sebagai “Soekarno” menggunakan ortografi Belanda) dan Mohammad Hatta,[seven]
yang kemudian ditunjuk sebagai presiden dan wakil presiden berturut-turut sehari setelah proklamasi dibacakan.[eight]
[9]

Hari Kemerdekaan dijadikan sebagai hari libur nasional melalui keputusan pemerintah yang dikeluarkan pada eighteen Juni 1946.[x]

Latar belakang

Pada tanggal half dozen Agustus 1945 sebuah bom cantlet dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (disingkat BPUPK; Jepang:
独立準備調査会,
Dokuritsu Junbi Chōsa-kai), berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (disingkat PPKI; Jepang:
独立準備委員会,
Dokuritsu Junbi Iin-kai), untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki, yang menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.[xi]

Soekarno dan Hatta selaku pimpinan PPKI serta Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam, untuk bertemu Marsekal Hisaichi Terauchi, pimpinan tertinggi Jepang di Asia Tenggara dan putra mantan Perdana Menteri Terauchi Masatake. Mereka bertiga dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Republic of indonesia.[12]
Sementara itu di Indonesia, pada tanggal x Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.[13]

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta, dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Republic of indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, berdasarkan tim PPKI.[11]
[14]
Meskipun demikian, Terauchi menginginkan proklamasi diadakan pada 24 Agustus 1945.[15]
Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta, dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang.[xvi]
Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat.[17]
Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak PPKI. Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan ‘hadiah’ dari Jepang.[11]
[18]

Komandan Jepang mendengarkan ketentuan penyerahan diri

Pada tanggal xiv Agustus 1945 Jepang secara resmi menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri.[nineteen]
Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji akan mengembalikan
kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republic of indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di
Koningsplein
(Medan Merdeka). Namun, kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Achmad Soebardjo kemudian ke kantor
Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (rumah Maeda di Jalan Imam Bonjol i). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat dan menjawab bahwa ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari tempat Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan PPKI pada pukul 10.00 pagi tanggal 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No. 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.[16]

Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada sixteen Agustus pukul 10.00 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul.[16]

Peristiwa Rengasdengklok

Rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang dijadikan sebagai lokasi “penculikan” Sukarno-Hatta.

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana yang terbakar gelora kepahlawanannya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) serta Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.[20]

Di Djakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Dki jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Soekarno dan Hatta kembali ke Djakarta.[21]
Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Djakarta, mereka pulang ke rumah masing-masing. Mengingat bahwa Hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul x.00 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda Tadashi untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.[22]
[23]

Baca :   Suatu Bahan Makanan Ketika Diuji Dengan Biuret

Penyusunan naskah Proklamasi

Pada malam hari setelah Peristiwa Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke Xvi (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno–Hatta yang diantar oleh Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokyo bahwa Jepang harus menjaga
status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat “bushido“, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Sukarno–Hatta lantas meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokyo dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.

Kediaman Laksamana Tadashi Maeda, lokasi perumusan naskah proklamasi. Sejak 1992, gedung ini dijadikan sebagai museum.[24]

Setelah dari rumah Nishimura, mereka menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No. 1) diiringi oleh Shunkichiro Miyoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi.[25]
Setelah menyapa Sukarno dan Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Teks proklamasi ditulis di ruang makan laksamana Tadashi Maeda. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Soekarno, Hatta, dan Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.K. Diah, Sayuti Melik, Soekarni, dan Soediro.[26]
[27]
Miyoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif.[28]
Tentang hal ini, Soekarno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti “transfer of power“.[25]
[23]
Hatta, Subardjo, B.Grand. Diah, Sukarni, Sudiro dan Sayuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima, tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.[29]

Menurut sejarawan Benedict Anderson, kata-kata dan deklarasi proklamasi tersebut harus menyeimbangkan kepentingan kepentingan internal Indonesia dan Jepang yang saling bertentangan pada saat itu.[23]
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Republic of indonesia berlangsung dari pukul dua hingga empat dini hari.[ane]
Setelah konsep selesai disepakati, Soekarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia,[7]
dan Sayuti menyalin dan mengetik naskah tersebut,[30]
[31]
menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[32]
Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[33]
(sekarang Jalan Proklamasi Nomor one).

Pembacaan naskah proklamasi

Soekarno berdoa sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia

Pada pagi hari, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Mohammad Tabrani, dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Setelah itu, Sang Saka Merah Putih, yang telah dijahit oleh Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil wali kota Dki jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pengibaran bendera pada 17 Agustus 1945.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera, tetapi ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[33]
Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Monumen Nasional.[34]

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin South. Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, tetapi ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.[33]

Dikibarkannya bendera Republic of indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pada tanggal eighteen Agustus 1945, PPKI mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 1945. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Republic of indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan Mohammad Hatta terpilih atas usul dari Otto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.[35]
[36]
[37]

Isi teks proklamasi

Naskah Proklamasi Klad

Proklamasi Klad
adalah naskah asli proklamasi yang merupakan tulisan tangan sendiri oleh Soekarno sebagai pencatat, dan adalah merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Hatta dan Achmad Soebardjo. Adapun perumus proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia terdiri dari Tadashi Maeda, Tomegoro Yoshizumi, S. Nishijima, Southward. Miyoshi, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo.[38]

Para pemuda yang berada di luar meminta supaya teks proklamasi bunyinya keras. Namun Jepang tak mengizinkan. Beberapa kata yang dituntut adalah “penyerahan”, “dikasihkan”, diserahkan”, atau “merebut”. Akhirnya yang dipilih adalah “pemindahan kekuasaan”.[38]
Setelah dirumuskan dan dibacakan di rumah orang Jepang, isi proklamasi pun disiarkan di radio Jepang.

Berikut isi proklamasi tersebut:



Proklamasi


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Haltwo
jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan


dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 – viii – ’05

Wakil2
bangsa Indonesia.

Naskah Proklamasi Klad ini ditinggal begitu saja dan bahkan sempat masuk ke tempat sampah di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. B.Thou. Diah menyelamatkan naskah bersejarah ini dari tempat sampah dan menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari, hingga diserahkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha pada 29 Mei 1992.[39]
[40]

Naskah baru setelah mengalami perubahan

Teks naskah Proklamasi yang telah mengalami perubahan, yang dikenal dengan sebutan naskah “Proklamasi Otentik“, adalah merupakan hasil ketikan Sayuti Melik, seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan Proklamasi, yang isinya adalah sebagai berikut:



P R O Yard Fifty A M A S I


Kami bangsa Republic of indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

Tahun pada kedua teks naskah
Proklamasi
di atas (baik pada teks naskah
Proklamasi Klad
maupun pada teks naskah
Proklamasi Otentik) tertulis angka “tahun 05” yang merupakan kependekan dari angka “tahun 2605“, karena tahun penanggalan yang dipergunakan pada zaman pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu adalah sesuai dengan tahun penanggalan yang berlaku di Jepang, yang kala itu adalah “tahun 2605”.

Baca :   Bagaimana Cara Menyanyikan Lagu Bertempo Sedang

Perbedaan teks naskah Proklamasi Klad dan Otentik

Teks Proklamasi yang tercantum pada uang pecahan 100,000 Rupiah.

Di dalam teks naskah
Proklamasi Otentik
sudah mengalami beberapa perubahan yaitu sebagai berikut:

  • Kata “Proklamasi” diubah menjadi “P R O K Fifty A G A Southward I“,
  • Kata “Halii
    ” diubah menjadi “Hal-hal“,
  • Kata “tempoh” diubah menjadi “tempo“,
  • Kata “Jakarta, 17 – 8 – ’05” diubah menjadi “Dki jakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05“,
  • Kata “Wakil2
    bangsa Indonesia
    ” diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia“,
  • Isi naskah
    Proklamasi Klad
    adalah asli merupakan tulisan tangan sendiri oleh Ir. Soekarno sebagai pencatat, dan adalah merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Drs. Mohammad Hatta dan Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo. Sedangkan isi naskah
    Proklamasi Otentik
    adalah merupakan hasil ketikan oleh Mohamad Ibnu Sayuti Melik (seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan
    Proklamasi),
  • Pada naskah
    Proklamasi Klad
    memang tidak ditandatangani, sedangkan pada naskah
    Proklamasi Otentik
    sudah ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.

Klip suara naskah yang dibacakan oleh Soekarno di studio RRI

Tempat pembacaan teks naskah
Proklamasi Otentik
oleh Soekarno untuk pertama kali adalah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 (hari yang diperingati sebagai “Hari Kemerdekaan Bangsa Republic of indonesia“), pukul 11.30 waktu Nippon (sebutan untuk negara Jepang pada saat itu). Waktu Japan adalah merupakan patokan zona waktu yang dipakai pada zaman pemerintah pendudukan militer Jepang kala itu. Namun perlu diketahui pula bahwa pada saat teks naskah
Proklamasi
itu dibacakan oleh Hurl Karno, waktu itu tidak ada yang merekam suara ataupun video, yang ada hanyalah dokumentasi foto.

Suara asli dari Soekarno saat membacakan teks naskah
Proklamasi
yang sering kita dengar saat ini adalah bukan suara yang direkam pada tanggal pada tanggal 17 Agustus 1945 tetapi adalah suara asli Soekarno yang direkam pada tahun 1951 di studio Radio Republik Indonesia (RRI), yang sekarang bertempat di Jalan Medan Merdeka Barat 4–5, Jakarta Pusat. Dokumentasi berupa suara asli hasil rekaman atas pembacaan teks naskah
Proklamasi
oleh Hurl Karno ini dapat terwujudkan adalah berkat prakarsa dari salah satu pendiri RRI, Jusuf Ronodipuro.[41]

Teks pidato proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia

Berikut ini adalah teks pidato Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Penyebaran teks proklamasi

Wilayah Indonesia yang sangat luas, sedangkan komunikasi dan transportasi sekitar tahun 1945 masih sangat terbatas, ditambah dengan hambatan dan larangan untuk menyebarkan berita proklamasi oleh pasukan Jepang di Indonesia, merupakan sejumlah faktor yang menyebabkan berita proklamasi mengalami keterlambatan di sejumlah daerah, terutama di luar Jawa. Penyebaran proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di daerah Dki jakarta dapat dilakukan secara cepat dan segera menyebar secara luas. Pada hari itu juga, teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Berita Domei (sekarang Kantor Berita ANTARA), Waidan B. Palenewen. Ia menerima teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F. Wuz (seorang markonis), supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara.[43]

Meskipun orang Jepang tersebut memerintahkan penghentian siaran berita proklamasi, tetapi Waidan Palenewen tetap meminta F. Wuz untuk terus menyiarkan. Berita proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam sampai pukul sixteen.00 saat siaran berhenti. Akibat dari penyiaran tersebut, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan menyatakan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar tersebut disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk. Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda bersama Jusuf Ronodipuro (seorang pembaca berita di Radio Domei) ternyata membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, di antaranya Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru di Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya berita proklamasi kemerdekaan disiarkan.

Tulisan grafiti bertuliskan “Kemerdekaan adalah milik kita (bangsa) Indonesia, Merdeka atau Mati!!“.

Usaha dan perjuangan para pemuda dalam penyebarluasan berita proklamasi juga dilakukan melalui media pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal twenty Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran pertama yang memuat berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang. Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia melalui pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api, misalnya dengan slogan
Respect Our Constitution, August 17!!!
(Hormatilah Konstitusi Kami, 17 Agustus!!!). Melalui berbagai cara dan media tersebut, akhirnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah Republic of indonesia dan di luar negeri. Meskipun menggunakan banyak media dan alat penyebaran, sebelum tahun 2005, pihak Belanda sebagai penjajah Indonesia tak mengakui Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 (de facto) melainkan tahun 1949 tanggal 27 Desember sebagaimana pengakuan PBB (de jure)[44]
sebab mereka berpendapat bahwa pada tahun 1945, kekuasaan di Indonesia
diserahkan kepada Sekutu, bukan
dibebaskan oleh Jepang. Di samping melalui media massa, berita proklamasi juga disebarkan secara langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri sidang PPKI. Berikut ini para utusan PPKI yang ikut menyebarkan berita proklamasi:

Baca :   Cara Mencari Sisi Persegi Jika Diketahui Luasnya

  • Teuku Mohammad Hassan dari Aceh,
  • Sam Ratulangi dari Sulawesi,
  • Ketut Pudja dari Sunda Kecil (Bali),
  • A.A. Hamidan dari Kalimantan.

Peringatan Hari Kemerdekaan

Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini dengan meriah. Upacara militer dilaksanakan di Istana Merdeka. Sementara itu, beragam perlombaan dihadirkan seperti lomba panjat pinang dan makan kerupuk. Seluruh masyarakat ikut berpartisipasi dengan caranya masing-masing.

Peringatan detik-detik proklamasi

Peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka dipimpin oleh Presiden RI selaku Inspektur Upacara. Upacara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB untuk memperingati awal upacara Proklamasi tahun 1945. Seremoni peringatan biasanya disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi nasional Indonesia. Acara-acara pada pagi hari termasuk: penembakan meriam dan sirene, pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih (Bendera Indonesia), pembacaan naskah Proklamasi, dan lain sebagainya. Pada sore hari sekira pukul 17.00 terdapat acara penurunan bendera Sang Saka Merah Putih.

Kewajiban mengibarkan bendera

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan Pasal 7 ayat (three) mengatur tentang kewajiban mengibarkan bendera Merah Putih bagi setiap warga negara yang memiliki hak penggunaan rumah, gedung kantor, satuan pendidikan, transportasi publik dan transportasi pribadi di wilayah Indonesia, serta kantor perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri pada tanggal 17 Agustus.[45]

Lihat pula

  • Hari Kemerdekaan Indonesia
  • Periode menjelang Kemerdekaan RI
  • Pengakuan kemerdekaan Republic of indonesia oleh Belanda
  • Pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda
  • Teks Proklamasi
  • Naskah Proklamasi

Referensi

  1. ^


    a




    b




    Gouda, Frances (2002).
    American visions of the netherlands East Indies/Republic of indonesia: Us foreign policy and Indonesian nationalism,1920-1949. Amsterdam: Amsterdam University Printing. hlm. 119.





  2. ^


    Gouda, Frances (2002).
    American visions of the netherlands Eastward Indies/Indonesia: Us foreign policy and Indonesian nationalism,1920-1949. Amsterdam: Amsterdam University Press. hlm. 36.





  3. ^


    “Dutch govt expresses regrets over killings in RI”.
    Jakarta Post. 18 August 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 June 2011. Diakses tanggal
    23 November
    2008
    .





  4. ^


    “ECLI:NL:RBSGR:2011:BS8793, voorheen LJN BS8793, BY9458, Rechtbank ‘south-Gravenhage, 354119 / HA ZA 09-4171”. fourteen September 2011.




  5. ^


    “Indonesië wil erkenning onafhankelijkheidsdag” (dalam bahasa Belanda). Nederlandse Omroep Stichting. 8 September 2013. Diakses tanggal
    15 September
    2013
    .





  6. ^


    “The United Nations and Decolonization – Trust and Not-Self-Governing Territories (1945-1999)”. United Nations.



  7. ^


    a




    b




    Anderson, Benedict (2006).
    Java in a time of revolution: occupation and resistance,1944-1946. Republic of indonesia: Equinox Publishing. hlm. 83.





  8. ^


    “Republic of indonesia Proclamation Hero : Mr.Soekarno”. 7 Desember 2011.




  9. ^


    Anderson, Benedict (2006).
    Coffee in a time of revolution: occupation and resistance,1944-1946. Indonesia: Equinox Publishing. hlm. 88.





  10. ^

    Osman 1953, hlm. 621-622.
  11. ^


    a




    b




    c



    Kahin 1952, hlm. 127.

  12. ^


    Friend, Theodore (2014).
    The blue-eyed enemy: Japan against the West in Coffee and Luzon, 1942-1945. New Jersey: Princeton University Press. hlm. 84.





  13. ^


    Friend, Theodore (2014).
    The blueish-eyed enemy: Japan confronting the West in Java and Luzon, 1942-1945. New Jersey: Princeton Academy Press. hlm. 81.





  14. ^

    Ricklefs 2008, hlm. 339-341.

  15. ^


    Sluimers, Laszlo (1996). “The Japanese armed forces and Indonesian independence”.
    Journal of Southeast Asian Studies.
    27
    (ane): 34.




  16. ^


    a




    b




    c



    Inomata 1952, hlm. 108.

  17. ^


    Ricklefs, M.C. (2008) [1981].
    A History of Modern Indonesia Since c.1300
    (edisi ke-quaternary). London: MacMillan. hlm. 336. ISBN 978-0-230-54685-1.





  18. ^

    Ricklefs 2008, hlm. 342.

  19. ^


    Feith, Herbert (2006).
    The decline of ramble commonwealth in Republic of indonesia. Singapore: Equinox Publishing. hlm. 7–8.





  20. ^


    Abdurrahman, Muhammad Iman (xvi Agustus 2017). “16 Agustus: Menelisik Memori Bersejarah Peristiwa Rengasdengklok”.
    Selasar.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-17. Diakses tanggal
    17 Agustus
    2019
    .





  21. ^


    Her Suganda (2009).
    Rengasdengklok – Revolusi dan Peristiwa. Dki jakarta: Kompas. hlm. 92–96. ISBN 9787977094355. Diakses tanggal
    26 Mei
    2013
    .





  22. ^


    Isnaeni, Hendri F. (16 Agustus 2015). “Begini Naskah Proklamasi Dirumuskan”.
    historia.id
    . Diakses tanggal
    thirteen Januari
    2019
    .




  23. ^


    a




    b




    c




    Anderson, Benedict (2006).
    Coffee in a fourth dimension of revolution: occupation and resistance,1944-1946. Indonesia: Equinox Publishing. hlm. 82.





  24. ^


    “Museum Perumusan Naskah Proklamasi Indonesia”.
    www.museumindonesia.com. Museum Indonesia. 2009. Diakses tanggal
    17 Agustus
    2019
    .




  25. ^


    a




    b




    Ricklefs, G.C. (2008) [1981].
    A History of Modern Indonesia Since c.1300
    (edisi ke-4). London: MacMillan. hlm. 342. ISBN 978-0-230-54685-1.





  26. ^


    Anderson, Benedict (2006).
    Java in a fourth dimension of revolution: occupation and resistance,1944-1946. Indonesia: Equinox Publishing. hlm. 71.





  27. ^


    Gouda, Frances (2002).
    American visions of the netherlands E Indies/Indonesia: US foreign policy and Indonesian nationalism,1920-1949. Amsterdam: Amsterdam University Printing. hlm. 45.





  28. ^

    Nishijima, “The Nationalist in Java, 1943-1945,” dalam Reid & Oki, eds.
    The Japanese Experience in Indonesia
    hlm. 262.

  29. ^

    Touwen-Bouwsma, E. (1996). “The Indonesian Nationalists and the Japanese “Liberation” of Indonesia: Visions and Reactions”.
    Journal of Southeast Asian Studies, 27(1), hlm. ane-18.

  30. ^


    “Onetime governor Ali Sadikin, freedom fighter SK Trimurti die”.
    Jakarta Mail. 21 Mei 2008. Diakses tanggal
    7 Juni
    2008
    .





  31. ^


    Yuliastuti, Dian (21 May 2008). “Freedom Fighter SK Trimurti Dies”.
    Tempo Interactive. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 September 2011. Diakses tanggal
    7 June
    2008
    .





  32. ^

    Zahorka, H. Sejarah dari Tugu Peringatan Pahlawan Jerman di Arca Domas, Republic of indonesia
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    .
  33. ^


    a




    b




    c




    Vickers, Adrian (2013).
    A history of modern Republic of indonesia. New York: Cambridge Academy Printing. hlm. 2.





  34. ^


    “Bendera Pusaka Disimpan dalam Kaca Antipeluru di Monas”.
    Tempo.co. 26 Juli 2017. Diakses tanggal
    17 Agustus
    2019
    .





  35. ^

    Ricklefs 1991, hlm. 213.

  36. ^

    Taylor 2003, hlm. 325.

  37. ^

    Reid 1974, hlm. thirty.
  38. ^


    a




    b



    Basyral Hamidy Harahap, Harian KOMPAS edisi sixteen Agustus 2001

  39. ^


    Fitrian, Herry (16 Agustus 2014). “Fakta Tentang Naskah Proklamasi Republik Indonesia – Media Online Kaltara”.




  40. ^


    “isbn:9793210052 – Google Search”.
    www.google.com.





  41. ^


    Pratama, Sandy Indra (17 Agustus 2015). “Cerita Jusuf dan Terbakarnya Jas Milik Soekarno”.
    CNN Republic of indonesia
    . Diakses tanggal
    17 Agustus
    2019
    .





  42. ^

    Terjemahan bebas dari
    Kahin, George McT. (2000). “Sukarno’s Proclamation of Indonesian Independence”.
    Republic of indonesia.
    69
    (69): 1–3. doi:10.2307/3351273. hdl:1813/54189. ISSN 0019-7289. JSTOR 3351273.





  43. ^


    Anderson, Bridegroom (2006).
    Java in a time of revolution: occupation and resistance,1944-1946. Indonesia: Equinox Publishing. hlm. 84.





  44. ^

    pengakuan PBB (de jure)

  45. ^


    “Merah Putih Wajib Dikibarkan Di Setiap Rumah pada Hari Kemerdekaan”.
    hukumonline.com. sixteen Agustus 2014.




Bacaan lebih lanjut

  • Anderson, Ben (1972).
    Coffee in a Fourth dimension of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946
    (dalam bahasa Inggris). Ithaca, N.Y.: Cornell Academy Press. ISBN 0-8014-0687-0.



  • Inomata, Aiko Kurasawa (1997). “Indonesia Merdeka Selekas-lekasnya: Preparations for Independence in the Concluding Days of Japanese Occupation”. Dalam Abdullah, Taufik.
    The Heartbeat of Indonesian Revolution. PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 97–113. ISBN 979-605-723-9.



  • Kahin, George McTurnan (1961) [1952].
    Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.



  • Raliby, Osman (1953).
    Documenta Historica: Sedjarah Dokumenter Dari Pertumbuhan dan Perdjuangan Negara Republik Indonesia
    (dalam bahasa Republic of indonesia). Jakarta: Bulain-Bintag.



  • Ricklefs, Thousand.C. (2008) [1981].
    A History of Modern Indonesia Since c.1300
    (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-iv). London: MacMillan. ISBN 978-0-230-54685-1.



  • Lembaga Soekarno-Hatta, 1984
    Sejarah Lahirnya Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila, Inti Idayu Press, Djakarta, hlm. 19
  • Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1991:52–53.

Pranala luar

  • (Indonesia)
    Mitos dan Realitas Menjelang Proklamasi
  • (Inggris)
    Proklamasi @ YouTube.com
  • (Inggris)
    Pengakuan PBB terhadap kemerdekaan negara-negara berdaulat



Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan Dilakukan Melalui Media Berikut Kecuali

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia

Check Also

Kata Yang Tepat Untuk Melengkapi Teks Tersebut Adalah

Kata Yang Tepat Untuk Melengkapi Teks Tersebut Adalah SOAL DAN PEMBAHASAN MATERI TEKS PROSEDUR MATA …