Pembangunan Apartemen Di Kota Kota Besar Dilakukan Untuk Mengatasi Ketersediaan

Pembangunan Apartemen Di Kota Kota Besar Dilakukan Untuk Mengatasi Ketersediaan


Oleh:

Beritajakarta.com
Rusun Rawa Bebek

Bisnis.com,
JAKARTA—Peremajaan kota atau urban renewal dengan konsep pengembangan hunian vertikal perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah sebagai arah pengembangan kota masa depan.

Hal ini untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan perkotaan untuk perumahan.


Direktur Utama PT Agung Podomoro State Tbk. Cosmas Batubara mengatakan, peremajaan kota merupakan upaya mengganti sebagian atau seluruh unsur-unsur lama perkotaan dengan unsur-unsur baru untuk meningkatkan vitalitas dan kualitas lingkungan.


Nantinya, kawasan tersebut akan memberikan kontribusi yang lebih baik bagi kota secara keseluruhan. Hal tersebut merupakan solusi untuk mengatasi kekurangan lahan di perkotaan yang saat ini semakin nyata seiring tingkat urbanisasi yang semakin tinggi.


Cosmas mengatakan, membangun rumah susun atau apartemen merupakan salah satu bentuk implementasi konsep pemeremajaan kota.


“Karena terbatasnya lahan di kota-kota besar, pemerintah daerah harus membangun rumah susun atau apartemen,” ungkap mantan Menteri Perumahan Rakyat ini dalam siaran pers, Selasa (27/12/2016).


Akan tetapi, kultur sebagian besar masyarakat Indonesia masih lebih nyaman hidup di rumah tapak. Oleh karena itu, dia mengusulkan pemerintah dan pengembang untuk melakukan edukasi kepada genarasi muda agar siap hidup di lingkungan apartemen.


Cosmas mengatakan, pengadaan perumahan rakyat merupakan salah satu amanat utama yang tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945. Dari sejak kabinet pertama republik hingga Kabinet Kerja dibawah Presiden Joko Widodo saat ini, sektor perumahan menjadi prioritas.


Dirinya mengapresiasi program pengadaan satu juta rumah dari Presiden Joko Widodo yang telah diluncurkan pada 2015 untuk memenuhi plan nasional pengadaan kebutuhan fifteen juta rumah.

Presiden Joko Widodo, menurut Cosmas, juga telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mendukung program pengadaan perumahan.


Menurutnya, PT Agung Podomoro Land berupaya untuk terlibat dalam program tersebut dalam proyek-proyek rumah susun atau apartemen untuk mendukung efektivitas pemanfaatan lahan kota.


Hal itu diwujudkan melalui berbagai proyek pengembangan apartemen dengan harga terjangkau seperti superblok Podomoro Golf View (PGV), Cimanggis, yang sedang dikembangkan setelah sebelumnya sukses membangun rusunami Gading Nias Residence dan Kalibata City.

Baca :   Sebuah Lokomotif Mula Mula Diam Kemudian Bergerak Dengan Percepatan 2m/s2

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Salah satu permasalahan yang terjadi di kota besar-kota besar dunia adalah ketersediaan perumahan (housing supply). Persoalan ini menjadi penting, sebab selain berfungsi sebagai sarana perlindungan dan kenyamanan, rumah juga merupakan pendorong terciptanya berbagai aktivitas perekonomian.

Lebih dari itu, ketersediaan perumahan yang layak huni juga merupakan salah satu tujuan pokok yang tercantum dalam agenda the Sustainable Development Goals (SDGs).

Dalam tulisan ini kita akan melihat beberapa dimensi persoalan terkait dengan ketersediaan perumahan. Tidak sedikit kota besar di penjuru bumi mengalami problem ketersediaan perumahan, baik karena keterbatasan lahan, keterbatasan kemampuan finansial pemerintah, serta daya beli masyarakat yang tergolong rendah. Persoalan perumahan ini muncul seiring dengan meningkatnya jumlah populasi penduduk kota, baik yang merupakan masyarakat lokal maupun warga pendatang.

Untuk beberapa wilayah seperti Singapura dan Hong Kong, isu tentang perumahan bisa jadi tidak menjadi persoalan penting, mengingat jumlah populasi penduduk yang tinggal di expanse tersebut tidak terlalu padat. Disamping itu, wilayah-wilayah yang dimaksud juga memiliki infrastruktur modern dan didukung oleh tingginya pendapatan per kapita.

Sementara di negara maju seperti Jepang, persoalan perumahan hingga kini masih menjadi trouble krusial. Sebuah studi menyebutkan bahwa akibat keterbatasan lahan yang tersedia, harga lahan kosong yang tersedia di kota besar seperti Tokyo dan Osaka menjadi sangat tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh sebagian besar warga kota tersebut (Noguchi, Yukio, Land Prices and House Prices in Japan, National Bureau of Economical Inquiry, January 1994).

Sedangkan di negara-negara berkembang, terbatasnya persediaan perumahan membawa dampak negatif bagi pembangunan ekonomi perkotaan. Dampak negatif tersebut terutama adalah munculnya daerah kumuh (slum area) yang tersebar dibeberapa titik di wilayah perkotaan.

Daerah kumuh ini biasanya merupakan bangunan-bangunan semi permanen dengan kerapatan yang tinggi antar bangunan, dan berada dalam lingkungan yang tidak layak, misalnya dalam satu rumah atau ruangan ditinggali oleh lebih dari tiga orang, akses terhadap air bersih yang tidak tercukupi, minimnya akses sanitasi, serta tidak adanya status hukum atas kepemilikan lahan dan bangunan. Adanya berbagai persoalan tersebut mendorong pemerintah kota menerapkan berbagai kebijakan untuk menanganinya. Berikut rangkuman berbagai upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah ketersediaan perumahan. Salah satu alternatif solusi bagi persoalan perumahan di kota besar adalah dengan membangun kompleks perumahan di kota-kota kecil (kota satelit) disekitar wilayah kota utama, sehingga konsentrasi masyarakat bisa tersebar dibanyak surface area sambil tetap menjaga interkoneksi antar wilayah. Namun demikian terdapat kendala yang tidak kalah besar, yakni munculnya ego sektoral antar wilayah, apalagi jika secara administratif setiap wilayah memiliki manajemen pemerintahan dan kebijakan yang berbeda.

Baca :   Jalan Lari Lempar Dan Lompat Termasuk Teknik Dasar Olahraga

Alternatif berikutnya yang diterapkan beberapa kota besar dunia adalah dengan mengadopsi bangunan vertikal seperti apartemen. Kelebihan dari bangunan apartemen adalah kemampuannya menampung lebih banyak individu dalam lahan yang terbatas, sedangkan kekurangannya antara lain ruang gerak yang terbatas bagi mereka yang tinggal di apartemen jika dibandingkan dengan rumah diatas tanah (landed house).

Selain itu tidak semua masyarakat mampu membeli unit apartemen, mengingat kemampuan finansial setiap individu yang bervariasi. Metode selanjutnya yang diterapkan pemerintah kota adalah dengan memberlakukan aturan ketat terhadap pendatang baru, dengan alasan untuk menghindari peningkatan jumlah populasi penduduk kota tersebut. Kebijakan ini selain menimbullkan masalah diskriminasi, juga dinilai tidak efektif dalam menyelesaikan persoalan.

Upaya lain adalah dengan mendorong pihak swasta untuk menyediakan rumah bagi kaum miskin dengan subsidi-subsidi tertentu yang diberikan oleh pemerintah. Namun dalam realita, tak jarang pihak swasta (pengembang) menemukan celah hukum untuk menguntungkan dirinya sendiri, sehingga peruntukan rumah untuk warga miskin menjadi tidak tepat sasaran (United Nations Man Settlements Programme and Un Economic and Social Commission for Asia and the Pacific, Housing the poor in Asian Cities, 2008).

Cara lain yang ditawarkan adalah dengan membangun rumah susun sewa bagi penduduk miskin kota, dengan membebankan biaya sewa yang terjangkau serta menyediakan subsidi untuk kebutuhan hidup seperti layanan kesehatan, pendidikan, air dan listrik, dan sebagainya. Upaya ini diyakini mampu memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan kualitas kehidupan warga kota, terutama yang masuk dalam kategori miskin. Lebih lanjut, persoalan perumahan bukan hanya terletak pada ketersediaan perumahan itu sendiri, namun juga permasalahan lain yang melekat, antara lain kendala pada infrastruktur terkait, seperti sarana transportasi, kesehatan, dan pendidikan; kendala lingkungan hidup dan sosial akibat meningkatnya jumlah populasi penduduk kota; kendala keuangan pemerintah kota, terutama dalam pembangunan fisik serta penyediaan subsidi dan fasilitas; serta perubahan pada manajemen pemerintahan dan kebijakan yang diambil. Sebagai penutup, berbagai persoalan dan upaya-upaya yang disebutkan diatas menggambarkan kompleksitas permasalahan ketersediaan perumahan di kota besar-kota besar dunia. **

Baca :   Saat Melakukan Headstand Bagian Kepala Yang Digunakan Untuk Bertumpu Adalah

ARTIKEL TERKAIT :

Mengenal Konsep Cashless Society

Tinjauan tentang Modal Sosial (Social Capital) serta Kaitannya dengan Ekonomi dan Pembangunan

Konsep dan Masalah Pembangunan Infrastruktur

Pembangunan Wilayah Perkotaan (Urban Evolution)

Klik Untuk Melihat Jawaban

#Jawaban di bawah ini, bisa saja salah karena si penjawab bisa saja bukan ahli dalam pertanyaan tersebut. Pastikan mencari jawaban dari berbagai sumber terpercaya, sebelum mengklaim jawaban tersebut adalah benar. Selamat Belajar..#

Answered by gestarasalsa on Tue, 03 May 2022 13:24:00 +0700 with category Biologi and was viewed past 345 other users

Jawaban nya A. Lahan… Jawabanya A lahan
maaf klo salah

Baca Juga: Coba Buat gambar ilustrasi berdasarkan cerita yang anda buat!​

en.dhafi.link Merupakan Website Kesimpulan dari forum tanya jawab online dengan pembahasan seputar pendidikan di indonesia secara umum. website ini gratis 100% tidak dipungut biaya sepeserpun untuk para pelajar di seluruh indonesia. saya harap pembelajaran ini dapat bermanfaat bagi para pelajar yang sedang mencari jawaban dari segala soal di sekolah. Terima Kasih Telah Berkunjung, Semoga sehat selalu.

Pembangunan Apartemen Di Kota Kota Besar Dilakukan Untuk Mengatasi Ketersediaan

Source: https://belajardenganbaik.com/pembangunan-apartemen-di-kota-kota-besar-dilakukan-untuk-mengatasi-ketersediaan

Check Also

Kata Yang Tepat Untuk Melengkapi Teks Tersebut Adalah

Kata Yang Tepat Untuk Melengkapi Teks Tersebut Adalah SOAL DAN PEMBAHASAN MATERI TEKS PROSEDUR MATA …